Informasi Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta

Perguruan Tinggi Di Bawah Naungan Kementerian Agama

No comments
Menristekdikti Mohamad Nasir mengajak Perguruan Tinggi Keagamaan untuk bersama-sama meningkatkan Kualitas Kelembagaan. Beliau menuturkan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan baik negeri maupun swasta juga perlu mendapat sentuhan kebijakan pendidikan tinggi yang dapat memberikan manfaat dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi.

Untuk menuju pendidikan tinggi yang unggul di era persaingan global, seluruh perguruan tinggi di Indonesia harus maju bersama dan meningkatkan kualitasnya. Baik itu Perguruan Tinggi Umum yang berada di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag).

Para pelajar, kenapa sih harus maju bersama? Alasannya tiada lain agar tidak terjadi gap (kesenjangan) yang jauh antara perguruan tinggi di bawah Kemenristekdikti maupun Kemenag. Kesenjangan yang dimaksud dapat meliputi kualitas perguruan tinggi maupun sumber daya manusianya. Masalah peningkatan mutu sekarang ini memang menjadi sasaran prioritas Kemenristekdikti. Demi mewujudkan itu, Kemenristekdikti telah memangkas beberapa regulasi agar relevan dengan perkembangan zaman.

Masalah nomenklatur atau perisitilahan program studi, gelar, homebase dosen telah kami sederhanakan regulasinya. Selain itu Nasir juga menyebutkan terkait dengan akreditasi, Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) juga telah diperbarui dimana pengajuan akreditasi dilakukan secara online.

Dari 66 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia yang terakreditasi A, hanya ada 3 yang berasal dari Perguruan Tinggi Agama Negeri (PTAN). Tidak ada yang dari Perguruan Tinggi Agama Swasta (PTAS). Sementara program studinya, dari 2717 program studi terakreditasi A, kurang dari 10% yang berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan.

Karenanya Menristekdikti berharap Perguruan Tinggi Keagamaan bisa lebih fokus lagi dalam meningkatkan mutu perguruan tinggi dan program studi keagamaan.

Untuk mendukung pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia, Menristekdikti Nasir pun berharap agar tiap kementerian harus fokus pada bidangnya sehingga dapat dicapai pendidikan tinggi keagamaan maupun pendidikan tinggi umum dengan mutu yang tinggi.

Kemenristekdikti sendiri berwenang dalam mengeluarkan izin pembukaan program studi umum, izin perubahan program studi umum, dan pencabutan izin program studi umum baik program studi di Perguruan Tinggi Umum maupun di Perguruan Tinggi Keagamaan. Sementara kewenangan Kemenag meliputi izin pembukaan program studi keagamaan, izin perubahan program studi keagamaan, dan pencabutan izin program studi keagamaan baik program studi yang berada di Perguruan Tinggi Umum maupun di Perguruan Tinggi Keagamaan.

Menurut Mastuki HS.(Kemenag), saat ini Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di lingkungan Kementerian Agama telah mencapai 618 lembaga. Dari jumlah tersebut, 53 berupa PTAI negeri (STAIN, IAIN dan UIN) dan sisanya berstatus swasta.

Jumlah itu masih akan bertambah karena beberapa elemen masyarakat Muslim tetap ingin mendirikan perguruan tinggi Islam baru. Jumlah PTAI yang besar ini pastilah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang bisa diprediksi misalnya kepelikan dalam pengawasan, pengendalian, dan pembinaan/pemberdayaan secara maksimal, efektif, dan berkesinambungan. Kesulitan itu ditambah lagi dengan sebaran PTAI yang secara geografis dan demografis berada pada hampir semua wilayah Indonesia, dengan tingkat keragaman yang tinggi dan jangkauan wilayah yang berdiaspora.

Ditilik dari kedudukan, eksistensi, dan peran perguruan tinggi Islam dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia sangat strategis.

  • Pertama, Islam sebagai agama yang sarat dengan nilai-nilai keluhuran dan paripurna, dapat menjadi rujukan penting dan benteng moral paling terpercaya dalam mempertahankan sendi-sendi keberagaman masyarakat Indonesia. Namun, semua itu bisa terwujud jika umat Islam sungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilai itu dalam tatanan beragama, berbangsa dan bermasyarakat. Posisi perguruan tinggi Islam, sebagai lembaga akademik dan institusi keagamaan, berada pada posisi menentukan dimana Islam bisa memberikan sumbangan berharga bagi umat dan bangsa Indonesia melalui kajian, studi, dan penelitian mendalam berkenaan dengan keagamaan.
  • Kedua, perguruan tinggi Islam berada pada basis-basis komunitas Muslim dengan segala variannya. Pada saat yang sama perguruan tinggi Islam berada pada lingkungan sosiologis yang majemuk baik suku, bahasa dan agama. Selain itu, perguruan tinggi Islam juga sebagai asset pemerintah daerah. Posisi ini sangat menguntungkan karena dengan begitu perguruan tinggi Islam akan menjadi “penyangga wilayah” yang berfungsi sebagai penjaga moralitas, stabilitas, dan harmoni sosial berlandaskan nilai-nilai agama.

Menjadikan perguruan tinggi Islam yang berkualitas tinggi memang bukan pekerjaan gampang dan instan. Hal tersebut membutuhkan waktu lama, istoqomah, tanggung jawab, kesabaran, dan komitmen serta niat luhur untuk merealisasikannya. Hanya saja, sikap itu belumlah maksimal jika tidak dibarengi dengan sikap-sikap profesional seperti percaya diri, disiplin tinggi, kerja keras, memiliki visi yang jelas, tangguh, kemampuan bersaing secara sehat (fastabiqul khairat), kreatif dan inovatif. Pertama-tama sikap demikian itu haruslah dimiliki oleh pimpinan perguruan tinggi Islam. Jika pimpinan perguruan tinggi Islam memiliki kapasitas dan kapabilitas serta integritas tinggi semacam itu, kita bisa berharap cita-cita menjadikan perguruan tinggi Islam berkualitas akan bisa terwujud.

Kami berharap informasi mengenai Perguruan Tinggi Di Bawah Naungan Kemenag ini dapat bermanfaat khususnya bagi para pelajar yang berminat meneruskan kuliah di Perguruan Tinggi, Amin Yaa Alloh Yaa Robbal 'Alamin!

Sumber:
- ristekdikti.go.id
- kemenag.go.id
- ujiantulis.com



No comments :

Post a Comment